Sabtu, 30 Juli 2022

Paradigma kehidupan

                          


                            Paradigma kehidupan


Kehidupan adalah suatu kegiatan orang yang hidup dan kematian adalah suatu kegiatan orang yang sudah mati.

Ya... Itu adalah sebuah kegiatan yang mana didalamnya kamu bisa mengukir cerita.

Mungkin dikehidupan masih bisa sampai nalar kita berfikir, namun di kematian kita tak tau bagaimana. karna aku dan kamu yang lagi membaca ini belum merasakan mati dan yang sudah mati tak bisa di tanyain gimana rasanya mati.

Bercerita tentang paradigma kehidupan masih tak jauh dari kata masa lalu, ya lagi dan lagi tentang masa lalu, yang dimana masa masa itu hanya untuk di kenang dan bukan untuk di ulang, namun dari masalalu yang di kenang bisa di jadikan sebuah pelajaran hidup yang akan di jalani agar lebih baik lagi, karna kalau kata orang indonesia "pengalaman adalah guru terbaik".

Namun kali ini bercerita tentang pardigma, ya sudah jelas kita akan mengingat kembali masa-masa sulit diri kita sendiri dan bagaimana cara kita keluar dari masa sulit itu.

Mungkin kalau aku pribadi yang sudah hidup selama 20 tahun sudah cukup banyak masa sulit yang di lewati  aku pernah merasakan kesulitan, down dan sampai putus asa akan hidup ini dan sampai beranggapan bahwa tuhan itu tidak baik dan hidup ini tidak adil, dari sekian banyak kejadian, sepertinya kejadian ini gak akan terlupakan karena kejadian ini yang sangat membuat aku rapuh.


Yaitu ketika kabar kematian ayahku sampai ketelingaku

Pada saat itu aku baru duduk di bangku kelas 5 SD dan adik aku baru duduk di kelas 1 SD, yang mana di umur kami yang masih segitu, kami masih sangat butuh rasa kasih sayang dari seorang ayah.

Aku tidak tau apa yang dirasakan adik ku kala itu, namun yang aku rasakan pada saat itu seperti tak percaya, dan aku langsung menganggap tuhan jahat kala itu karna ia begitu cepat mengambil ayahku padahal aku belum puas berada disisinya dan aku belum banyak mendapatkan pelajaran darinya, bayangkan si anak kecil kelas 5 Sd mengatakan kecewa kepada tuhan dan menganggap hidup ini tidak adil karena aku tidak bisa merasakan kesenangan seperti orang lain yang mana mereka masih memiliki kedua orang tua.


Semakin rapuh hati ku kala itu ketika melihat ibuku menangis meratapi kematian orang yang ia sayangi di hidupnya seraya ia gak bisa mengiklaskan kepergiannya kala itu.


Namun...aku tak begitu lama tenggelam dalam kesedihan kehilangannya, karna aku masih memiliki ibuku yang aku tau kalau dia adalah wanita yang baik yang akan menjaga kami hingga besar nanti.


Ketika berfikir seperti itu, hati ku sedikit tenang walau aku belum ikhlas waktu itu seperti tak menyangka akan kehilangannya secepat itu. Dan kesedihan kehilangannya itu masih aku rasakan sampai sekarang, sampai kalian membaca tulisan ku ini, dan kalau aku mengenang kisah ini pasti air mata ku akan metes dengan sendirinya dan percayalah, aku menulis ini air mata ku juga terjatuh. 


Sekarang aku sudah mengikhlaskan kejadian itu namun aku sangat takut kejadian itu terulang kembali.


Aku tau, semua manusia, semua makhluk hidup akan mati.


Namun aku selalu berharap kepada tuhan untuk di matikan terlebih dahulu sebelum ibu ku, karna aku masih trauma kehilangan orang yang sangat berpengaruh di hidupku di waktu kecil dulu dan aku tak mau merasakannya lagi ketika besar ini.


Doa yang sering aku lafadz kan adalah

" Ya tuhan, jangan kau cabut nyawa ibuku sebelum kau cabut nyawaku, karna aku belum sanggup kehilangan orang yang aku sayang yang kesian kalinya"


Aku gak tau salah atau benarnya doa ku itu 

Namun rasa takut ku sangat besar sampai aku gak mau mengulangnya lagi.


Jadi caraku keluar dari masalah hidup ku yang satu ini adalah aku berusaha untuk mengikhlaskan semuanya walau dengan keterpaksaan, dan aku berfikir aku tidak bisa terlalu tenggelam di dalam kesedihan itu karna aku masih memiliki ibu yang harus aku jaga prasaannya.


Tak ada masalah yang tak bisa di lalui namun kita harus tau bagaimana cara kita keluar dari masalah itu agar tak menimbulkan masalah lainnya.


-teras literasi.



Cerita diatas sudah aku singkat sesingkat mungkin karna aku sebagai penulis masih belum sanggup mengingat dan menuangkannya dalam tulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar