Minggu, 05 Desember 2021

Kopi dan Masa Lalu



 Kopi dan masa lalu

Hari ini, tepat dimana aku meneguknya lagi, si kopi hitam dan sedikit campuran gula putih,

Dua element yang berbeda namun aku paksa bersatu dan menghasilkan rasa nikmat yang melekat di lidah dan mengalir dengan tenang di atas tenggorokan.

Rasa nikmat itu seraya menenggelamkan isi otak ku dan memutar kembali kejadian-kejadian masa lalu yang mungkin sudah enggan aku ingat namun tak semudah yg ku bayangkan melupakannya.

Namun kenikmatan kopi ini tak hanya mengingatkan ku kenangan masa kelam ku, tetapi ia juga membawa ku kemasa yang mana pada saat itu aku kembali berkumpul dengan kebahagiaan ku dengan utuh, kejadian sederhana itu, sangat istimewa bagi ku saat ini, namun itu hanya bisa aku simpan dan aku ulang di alam khayalku saja.

Aku teguk lagi kopi hitam itu, rasa dan aroma masih sama seperti yang pertama, rasa nikmat itu masih melekat pekat di lidah ku dan mengalir lembut menyusuri tenggorokan.


Ah sial....

Lagi dan lagi aku tenggelam dengan kenikmatannya.

Kembali aku tenggelam ke masa lalu ku, ketika aku belum mengenal yang namanya percintaan dan kala itu aku merasa orang yang paling bahagia karena tak ada sedikit pun yang mengganggu fikiran ku kala itu.

Rasa tenang setiap saat aku rasakan.

Sampai.......

Kedewasaan menghampiriku

Aku serasa terjebak dalam mimpi buruk.

Karna pada masa ini fikiran tenang ku sudah di rebut olehnya, terasa sangat banyak tekanan-tekanan qolbu yang menyerang secara bertubi-tubi sehingga tak lagi kurasakan ketenangan seperti dulu.

Kedewasaan yang selalu menghantuiku, serasa tak mengijinkan ku untuk mengulang masa-masa indah ku kala dulu.

Seraya ia berbisik dan mengatakan.

" Ini adalah kehidupanmu yang sesungguhnya"

Kata kata itu selalu berputar-putar di kepala ku 

Sampai-sampai aku tersentak dan sadar dari lamunanku tadi.

Kembali aku teguk kopi itu,


Ah sial.......

Kopiku sudah mulai dingin,

Aku sangat terlarut dalam khayalku sampai aku lupa menikmati kehangat dari kopi yang di hadapanku.


Namun aku  bisa belajar dari kopi ini, bahwa yang terlewati tak selalu mengecewakan dan yang mengecewakan tak selalu tertaut oleh masa lalu.


#TerasLiterasi

#fahriihsanfadilah

Sabtu, 12 Juni 2021

TENDA DAN LENTERA

 

                                 




                                        TENDA DAN LENTERA


Aku tau, mereka adalah dua benda yang  berbeda

Aku juga tau, kalau fungsi mereka itu tak sama

Namun, aku belajar dari perbedaan itu

Bahwa tak semua yang berbeda itu,  tak bisa menyatu

 

Sama seperti tenda dan lentera.

Tenda berfungsi sebagai pelindung dari teriknya panas matahari,

 dinginnya terpaan angin malam

dan basahnya guyuran hujan yang turun ke bumi.

Ia juga bisa memanjakan tubuh ku di kala aku merasa letih

Dan melindungi ku di dalam nya sepanjang malam

Hingga fajar terbit kembali.

 

Lentera memiliki sinar terang yang bisa menerangi kegelapan malam kala itu

Pengganti matahari di malam hari

Teman di kala malam, yang bersedia berbagi cahaya nya.

Teman di kala tak ada satu pun cahaya yang menyinari disekitar,

Pelengkap di setiap malam gelap gulita ku.

 

Ketika kedua benda ini di padukan menjadi satu,

Dengan kegunaan mereka yang berbeda,

Maka benda ini akan menghasilkan kegunaan yang berlipat ganda.

Ketika tenda melindungi ku dari cuaca di luar dan memanjakan tubuh letih ku di dalamnya,

Dan lentera pun menerangi sekeliling tenda.

 di saat itu, cahaya bulan pun tak sanggup menerangi ku dikala gelap nya malam.

 

Malam pun berlalu, ketika sang fajar sudah memancarkan cahayannya sedikit demi sedikit,

Dan di situ pula tenda sudah tak memerlukan lentera lagi.

Mereka di pisahkan oleh cahaya yang sebenarnya.

Aku tau perpisahan ini tidak akan lama

Karena malam akan kembali lagi.

 

Namun, kata perpisahan itu sangat menyakit kan

Walau hanya sebentar katanya.

 

Dua hal yang berbeda bisa bersatu di suatu keadaan

Namun apa bila keadaan itu sudah berubah

Maka di situlah waktunya mereka berpisah, dan menunggu sampai kapan mereka di satukan kembali.

 

Suatu yang bisa disatukan, maka bisa pula ia di pisahkan karena itu sudah jalannya.

Dan suatu yang bisa di pisahkan, maka bisa pula mereka kembali bersatu lagi.

Hanya cukup menunggu kapan waktu itu menyatukannya lagi.

 

 

 

-terpisah karna keadaan

- dan disatukan oleh keadaan.

 

 

Rabu, 06 Januari 2021

Aku Yang Buruk Rupa

 


AKU YANG BURUK RUPA


Air mataku menetes tanpa diminta.

Berhenti karena dipaksa.

Aku yang selalu melempar senyum, padahal hati menjerit tersiksa.

Dia yang dengan sengaja bercanda tanpa mengerti batas tutur kata.

Apa salah saya jika tak memiliki wajah seperti dia?

Apa salah saya jika tak memiliki tubuh seperti mereka?

Hanya dipandang sebelah mata.

Diperlakukan tidak sewajarnya.

Dusta! Jika ada yg berkata cantik hati lebih penting dibandingkan cantik rupa.

Kenyataannya hidup memang tak adil untuk saya yg buruk rupa!

Dari percintaan hingga pekerjaan,

Saya selalu berusaha diatas penghinaan dan ketidak adilan!

Saya selalu berusaha, namun penghinaan dan ketidak adilan terasa menghantui setiap langkah. 

Rasa takut ingin memulai jadi salah satu masalah, "entah kenapa aku begini" kata-kata itu selalu terucap dari benak ini.

Terkadang rasa bersyukur hilang entah kemana, dibawa oleh rasa takut yang begitu dahsyat.

Saya selalu mencoba memaksakan diri untuk tetap kuat.

Namum dunia ini ternyata lebih kuat dari yang kubayangkan.

Saya merasa sisi kejam dunia ini selalu menyerang dengan cara bertubi-tubi dan tak pernah memberi sedikit waktu untuk berada di tempat yang kuingin kan.

Entah itu kenyataan atau hanya firasat buruk tentang hidup ini.

Tapi yang pastinya rasa sakit ini sangat jelas aku rasa kan.

Kenapa aku tidak pernah dapat ke adilan? Apakah dunia ini hanya buat mereka yg sempurna?

Kadang aku berfikir begitu.

Ingin rasanya ku teriakkan semua isi dihati, agar alam mendengar keluhan ku.

Aku berusaha untuk tetap tegar menjalaninya, dan tak berhenti tuk bermimpi dan selalu membarengi usaha dengan doa.

Bersikeras menanamkan rasa, bahwa aku ini sempurna dengan caraku memandang diriku sendiri!

Dan saya percaya akan ada terang di cerita hidup nantinya.