Coba
bayangkan gimana beratnya menjalani hari-hari tanpa seorang ayah…..
Ya!
Seorang ayah,
Laki-laki nomor satu yang ada dalam hidup kita,
laki-laki dambaan hati ibu kita, dan seorang laki-laki yang terkadang enggan
menanyakan kabar anaknya secara langsung, gimana pendidikannya, siapa wanitanya,
dan berapa penghasilannya.
Ternyata diam-diam ayah menanyakan itu semua
kepada ibu, aku sempat bingung dan memiliki rasa penasaran dibuatnya, kenapa
dia tidak menanyakannya langsung kepada ku tanpa perantaraan ibu,
hmmm….. tetapi
kebingungan dan rasa penasaran itu hanya
dapat ku simpan di dalam hati saja.
Tak
jarang aku merasakan rindu yang sangat mendalam kepada ayah ku yang sudah lama
pergi meninggalkan kami, rindu akan canda tawanya, rindu bagaimana cara dia
memarahi ku ketika aku membuat kesalahan dan rindu belaian tangannya ketika
mengusap kepala ku.
Tetapi
sekarang hanya rindu yang bisa ku rasakan, tanpa bisa mengulang kembali itu semua.
Karna
dia sekarang sudah pergi ketempat yang saaaangat jauh disana, mungkin disana tempatnya sangat indah dan nyaman ya pak sehingga bapak enggan untuk kembali lagi kesini hehehhe... tunggu aku di sana ya pak, banyak yang masih ingin aku cerita kan kepada bapak sampai- sampai waktu di dunia tidak cukup untuk menceritakan semuanya.
Tugas bapak di
dunia untuk membesarkan, menjaga dan mendidikku sudah selesai, maka dari itu
dia pulang ketempat yang semestinya dia tempati secara abadi di akhirat sana.
Terkadang pula Untuk
mengobati rasa rindu ku kepadanya, aku sering bongkar sebuah kardus yang disimpan
ibu di dalam kamar, yang isi nya adalah album-album lama, yang di dalamnya
terdapat foto ku beserta keluarga ku dan ada wajah bapak ku di dalam foto itu.
Kupandangi
wajah tampannya dan air mata ku secara spontan terjatuh dan membasahi
foto itu, dan tanpa ku sadari ibu memperhatikan ku, dan bertanya kepada ku.
”rindu sama
bapak nak?”
lalu
aku menjawab sembari menghapus air mata ku
“iya buk”
dengan wajah ku yang menunduk tersipu malu.
Lalu
ibu menepuk pundak ku lalu berkata dengan bibir tersenyum tipis kepada ku
“hapus air mata mu, karna bapak sudah tidak
memerlukan itu nak, yang bapak perlukan hanya doa dari anaknya, doa kan bapak
agar di tempatkan di tempat yang paaaling baik di sana” .
Setelah
ibu mengatakan itu air mata ku mengalir makin menjadi-jadi dan tak terbendungku, dan aku hanya bisa terdiam dan
tertunduk.
Sekarang
aku sudah beranjak dewasa, dan terkadang
pula aku berkata di dalam hati ku:
“pak ini anakmu yang dulu kamu gendong
kemana-kemana, kini aku sudah beranjak besar dan dewasa pak dan aku sudah menyelesaikan pendidikan ku di pondok pesantren sebagaimana yang bapak
ingin kan dulu pak, padahal aku berharap bapak bisa melihatnya langsung pak, aku
juga pingin melihat senyum bangga mu kepada ku.
Tetapi takdir berkata lain
semoga bapak dapat melihatku dari sana dan bangga kepada ku, dan tersenyum
kepadaku walau aku tak bisa melihatnya secara langsung, dan aku akan berjanji
akan menjaga ibu dan membanggakannya, begitu pula adik pak, yang mungkin dia
tidak begitu hafal dan tanda wajahmu pak, hanya fotomu lah yang bisa kami
kenalkan kepadanya, aku juga berjanji akan menjaganya pak”.

Seketika
itu air mata ku keluar dan tak terbendungku padahal aku sudah berusaha untuk
tegar dan mengikhlaskannya.
Iya…. Aku memang sudah mengiklaskanya tapi
terkadang rasa rindu ini mengalahkan perasaan tegar ku, dan terkadang mulut ini berkata:
"kenapa aku tak seberuntung anak lain di luar sana, yang masih bisa merasakan kasih sayang kedua orang tua"
dan setelah itu aku menarik nafas dan mencoba mengkuatkan diri ku lagi dan mencoba untuk tidak mengeluh, walau terkadang rasa itu kembali lagi.
Sekarang
hanya doa yang bisa aku berikan kepada mu pak , nama mu selalu aku selip kan di dalam doa ku semoga tenang bapak di alam sana,
ditempatkan di tempat yang saaangat baik. Aamiin ya rabbal ‘alamin….
Pesan singkat:
“hargai selagi ada, berbakti kepadanya dan jangan
buat dia kecewa, karna apabila ia sudah tiada tetapi kita belum sempat meminta
maaf kepadanya hanya penyesalan yang akan kita bawa kemana-mana”
-fahri ihsan fadila-
Terimakasih kepada semua pembaca semoga bacaan diatas tadi dapat menggugah kita untuk lebih berbakti kepada orang tua kita, tidak hanya kepada ayah tetapi kepada ibu kita juga.
kita jaga mereka, rawat mereka selagi mereka masih ada bersama kita dan jangan sampai kita menyesal karna belum berbakti kepadanya.