Minggu, 07 Juni 2020

RINDU BAPAK





                                   
Coba bayangkan gimana beratnya menjalani hari-hari tanpa seorang ayah…..

Ya! Seorang ayah,

 Laki-laki nomor satu yang ada dalam hidup kita, laki-laki dambaan hati ibu kita, dan seorang laki-laki yang terkadang enggan menanyakan kabar anaknya secara langsung, gimana pendidikannya, siapa wanitanya, dan berapa penghasilannya.

 Ternyata diam-diam ayah menanyakan itu semua kepada ibu, aku sempat bingung dan memiliki rasa penasaran dibuatnya, kenapa dia tidak menanyakannya langsung kepada ku tanpa perantaraan ibu, 

hmmm….. tetapi  kebingungan dan rasa penasaran itu hanya dapat ku simpan di dalam hati saja.

Tak jarang aku merasakan rindu yang sangat mendalam kepada ayah ku yang sudah lama pergi meninggalkan kami, rindu akan canda tawanya, rindu bagaimana cara dia memarahi ku ketika aku membuat kesalahan dan rindu belaian tangannya ketika mengusap kepala ku.

Tetapi sekarang hanya rindu yang bisa ku rasakan, tanpa bisa mengulang kembali itu semua. 

 Karna dia sekarang sudah pergi ketempat yang saaaangat jauh disana, mungkin disana tempatnya sangat indah dan nyaman ya pak sehingga bapak enggan untuk kembali lagi kesini hehehhe... tunggu aku di sana ya pak, banyak yang masih ingin aku cerita kan kepada bapak sampai- sampai waktu di dunia tidak cukup untuk menceritakan semuanya.

 Tugas bapak di dunia untuk membesarkan, menjaga dan mendidikku sudah selesai, maka dari itu dia pulang ketempat yang semestinya dia tempati secara abadi di akhirat sana.

Terkadang pula Untuk mengobati rasa rindu ku kepadanya, aku sering bongkar sebuah kardus yang disimpan ibu di dalam kamar,  yang isi nya adalah album-album lama, yang di dalamnya terdapat foto ku beserta keluarga ku dan ada wajah bapak ku di dalam foto itu.

Kupandangi wajah tampannya dan  air mata ku secara spontan terjatuh dan membasahi foto itu,  dan tanpa ku sadari ibu memperhatikan ku, dan bertanya kepada ku.

”rindu sama bapak nak?”

  lalu aku menjawab sembari menghapus air mata ku

iya buk” 

dengan wajah ku yang menunduk tersipu malu.
Lalu ibu menepuk pundak ku lalu berkata dengan bibir tersenyum tipis kepada ku

hapus air mata mu, karna bapak sudah tidak memerlukan itu nak, yang bapak perlukan hanya doa dari anaknya, doa kan bapak agar di tempatkan di tempat yang paaaling baik di sana” .

Setelah ibu mengatakan itu air mata ku  mengalir  makin menjadi-jadi dan tak terbendungku, dan aku hanya bisa terdiam dan tertunduk.

Sekarang aku  sudah beranjak dewasa, dan terkadang pula aku berkata di dalam hati ku:

pak ini anakmu yang dulu kamu gendong kemana-kemana, kini aku sudah beranjak besar dan dewasa pak dan aku sudah  menyelesaikan pendidikan ku di pondok pesantren sebagaimana yang bapak ingin kan dulu pak, padahal aku berharap bapak bisa melihatnya langsung pak, aku juga pingin melihat senyum bangga mu kepada ku.

 Tetapi takdir berkata lain semoga bapak dapat melihatku dari sana dan bangga kepada ku, dan tersenyum kepadaku walau aku tak bisa melihatnya secara langsung, dan aku akan berjanji akan menjaga ibu  dan membanggakannya, begitu pula adik pak, yang mungkin dia tidak begitu hafal dan tanda wajahmu pak, hanya fotomu lah yang bisa kami kenalkan kepadanya, aku juga berjanji akan menjaganya pak”.



Seketika itu air mata ku keluar dan tak terbendungku padahal aku sudah berusaha untuk tegar dan mengikhlaskannya.

Iya…. Aku memang sudah mengiklaskanya tapi terkadang rasa rindu ini mengalahkan perasaan tegar ku, dan terkadang mulut ini berkata:

"kenapa aku tak seberuntung anak lain di luar sana, yang masih bisa merasakan kasih sayang kedua orang tua"

dan setelah itu aku menarik nafas dan mencoba mengkuatkan diri ku lagi dan mencoba untuk tidak mengeluh, walau terkadang rasa itu kembali lagi.

Sekarang hanya doa yang bisa aku berikan kepada mu pak  , nama mu selalu aku selip kan di dalam doa ku semoga tenang bapak di alam sana, ditempatkan di tempat yang saaangat baik.                                                        Aamiin ya rabbal ‘alamin….









Pesan singkat:
“hargai selagi ada, berbakti kepadanya dan jangan buat dia kecewa, karna apabila ia sudah tiada tetapi kita belum sempat meminta maaf kepadanya hanya penyesalan yang akan kita bawa kemana-mana”
                                                                        
                                       -fahri ihsan fadila-




Terimakasih kepada semua pembaca semoga bacaan diatas tadi dapat menggugah kita untuk lebih berbakti kepada orang tua kita, tidak hanya kepada ayah tetapi kepada ibu kita juga.

kita jaga mereka, rawat mereka selagi mereka masih ada bersama kita dan jangan sampai kita menyesal karna belum berbakti kepadanya.



11 komentar: